Minggu, 12 Februari 2012

MAKALAH EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DAN PESISIR PANTAI



BAB I
PENDAHULUAN

1. 1      Latar Belakang
Sumber Daya Alam Kabupaten Indramayu yang kaya dan beragam, baik dari sector pertanian, hutan, dan kelautan seperti perikanan, penambangan lepas pantai dengan produksi minyaknya, perhubungan seperti arus lalu lintas kapal tanker yang membawa minyak mentah dan hasil olahanya serta kapal nelayan telah dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan ekonomi regional dan nasional.
Mengingat keragaman ekosistem daratan dan lautan hususnya wilayah pesisir dan laut yang merupakan lokasi beberapa ekosistem yang unik dan terkait, dinamis dan produktif, Beberapa ekosistem utama di wilayah ini adalah Estuaria,hutan marove,padang lamun, terumbu karang, pantai (brbatu dan berpasir), dan pulau-pulau kecil. Dibalik peran yang strategis dengan adanya kekayaan laut yang beraneka ragam, terdapat kendala dan kecenderungan yang mengancam yang ditaandai dengan adanya degradasi fisik seperti pencemaran perairan,penggundulan hutan mangrove, abrasi, dan timbulnya lahan kritis, yang merupakan indikator pelaksanaan pembangunan lingkungan hidup daerah pesisir belum optimal, dengan adanya beberapa benturan konflik kepentingan antara beberapa proyek pembangunan.

Sebagai tindak lanjut peran serta Upaya Pengelolaan Lingkungan, adalah diadakanya tinjauan langsung yang di dalamnya memuat kegiatan Pemantauan Kualitas Air Limbah Industri dan badan air, serta penelitian tentang komponen-komponen ekosistem lainya di sekitar daerah pesisir, yang pada kesempatan kali ini mengambil lokasi Pantai Karangsong karena diduga akibat dari kegiatan industri dapat merusak atau mempengaruhi ekosistem di dalamya.




1.2       Maksud dan Tujuan
Tujuan Umum:
Tujuan utama dari pembuatan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.
Tujuan Khusus:
Maksud diadakanya praktikum Dasar-Dasar Lingkungan ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi mengenai keadaan ekosistem pesisir yaitu ekosistem tambak / empang dan ekosistem mangrove meliputi:
1.      mengetahui apa saja komponen abiotik yang terdapat pada lokasi.
2.      mengetahui komponen biotik apa saja yang berperan sebagai produsen, macroconsumers, dan microconsumers.
3.      mengetahui interaksi (hubungan timbal balik) dari komponen ekosistem yang ada.
4.      mengetahui manfaat dari keberadaan ekosistem tambak dan mangrove.
5.      mengetahui langkah-langkah apa untuk merehabilitasi lingkungan ekosistem pesisir.
6.      Mengetahui ciri-ciri fisik dan kimia pada ekosistem pantai dan ekosistem mangrove.
1.3          
            Pembatasan Masalah
Pada makalah ini penulis hanya membatasi masalah tentang :
1.    Tinjauan kondisi hutan mangrove dan pesisir pantai desa karangsong.
2.    Faktor bahan pencemar yang merusak pesisir pantai karangsong
3.    Dampak bahan pencemar terhadap ekosistem pesisir hususnya hutan mangrove dan pantai di sekitar lokasi
4.    Langkah apa saja yang harus dilakukan untuk menaggulangi dampak pencemaran terhadap ekosistem pesisir.  
1.4          Sistematika Penulisan
Penyusunan makalah ini menggunakan teknik.
Telaah buku / kepustakaan, yakni penulis membaca dan mengutip data yang didapat atau bahan materi yang  yang ditemukan dari buku-buku sebagai panduan. 
Pengumpulan data, yakni mengumpulkan semua data yang didapat dari media cetak seperti  koran, lampiran kertas, materi karya ilmiah,dan bahan lain yang berhubungan maupun media elektronik seperti kutipan dari internet dan televisi.
Dengan metodologi penelitian secara langsung (observasi langsung) meliputi kegiatan pengambilan sampel dan pengukuran yang akan dibahas pada bab selanjutnya.                                                                       




BAB II
TINJAUAN TEORI

2. 1      Ekosistem Pesisir Estuari
adalah wilayah pesisir semi tertutup yang mempunyai hubungan bebeas dengan laut terbuka dan menerima masukan air tawar dari daratan. Di estuaria terdapat tiga komponen fauna, yaitu fauna laut, air tawar dan payau. Komponen terbesar didomonasi fauna laut.
Biota yang hidup di ekosistem estuari umumnya adalah percampuran antara yang hidup endemik, artinya yang hanya hidup di estuari, dengan mereka yang berasal dari laut dan beberapa yang berasal dari perairan tawar, khususnya yang mempunyai kemampuan osmoregulasi yang tinggi. Bagi kehidupan banyak biota akuatik komersial, ekosistem estuari merupakan daerah pemijahan dan asuhan. Kepiting (Scylia serrata), tiram (Crassostrea cucullata) dan banyak ikan komersial merupakan hewan estuari. Udang niaga yang memijah di laut lepas membesarkan larvanya di ekosistem ini dengan memanfaatkannya sebagai sumber makanan.
Daerah muara sungai yang terlindung dan kaya akan sumberdaya hayati menjadi tumpuan hidup para nelayan, sehingga tidak dapat dihindari terjadinya pemukiman di pinggiran muara sungai. Tidak hanya itu, karena muara sungai ini juga menjadi penghubung daratan dan lautan yang sangat praktis, maka manusia menggunakannya sebagai media perhubungan. Daerah yang terlindung juga menjadi tempat berlabuh dan berlindung kapal, terutama di saatsaat laut berombak besar. Perkembangan industri pantai menambah padatnya wilayah estuari ini oleh kegiatan manusia karena
Daratan estuari merupakan akses yang bagus buat kegiatan industri itu, khususnya tersedianya air yang melimpah, baik itu untuk pendingin generator maupun untuk pencucian alatalat tertentu dan tidak dapat dihindari nafsu untuk membuang limbah ke lingkungan akuatik.





Gambar 2.1 ekosistem  estuaria
Mengingat banyaknya perikanan komersial yang tergantung pada ekosistem estuari ini maka perlindungan ekosistem ini merupakan salah satu persyaratan ekonomik yang utama agar perkembangan ekonomi di wilayah ini dapat dijaga kelanjutannya. Banyaknya jenis pemanfaatan wilayah di ekosistem estuari ini menyebabkan sering terjadinya bertentangan kepentingan dan kerusakan ekosistem yang berharga ini. Oleh karena itu, perencanaan terpadu wilayah estuari ini perlu dilakukan dengan seksama untuk menjaga ekosistem ini agar tidak rusak.
2. 2      Ekosistem Pesisir Padang Lamun
      Lamun (seagrass) merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki rhizome, daun dan akar sejati yang hidup dan terbenam di dalam air laut. Lamun umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhanya. Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur sampai berbatu. Namun padang lamun yang lebih luas sering ditemukan di substrat Lumpur-berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang.
Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk keranjang anyaman, dibakar untuk garam, soda atau penghangat, bahan isian kasur, atap, bahan kemasan, pupuk, isolasi suara dan suhu. Pada jaman modern ini, lamun dimanfaatkan antara lain sebagai penyaring limbah, stabilisator pantai, pupuk, makanan dan obatobatan.Padang lamun berlaku sebagai daerah asuhan, pelindung dan tempat makan ikan, Avertebrata, dugong dan sebangsanya. Padang lamun juga berinteraksi dengan terumbu karang dan mangrove. Ekosistem lamun ini terdapat di banyak perairan pantai di negara kita. Di Kepulauan Seribu, misalnya, terdapat ekosistem ini yang berdampingan dengan mangrove dan terumbu karang. Ekosistem ini dikaitkan dengan kehadiran dugong karena tumbuh-tumbuhan lamun menjadi makanannya.
 


Gambar 2.2 morfologi lamun



2. 3      Ekosistem Pesisir Hutan Mangroove
      Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang-surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang cukup mendapat aliran air, dan terlindung dari gelombang besar dan arus pasang-surut yang kuat.
Ekosistem ini mempunyai dua komponen lingkungan, yakni darat (terestrial) dan air (akuatik). Lingkungan akuatik pun dibagi dua, laut dan air tawar. Ekosistem mangrove dikenal sangat produktif, penuh sumberdaya tetapi peka terhadap gangguan. Ia juga dikenal sebagai pensubsidi energi, karena adanya arus pasut yang berperan menyebarkan zat hara yang dihasilkan oleh ekosistem mangrove ke lingkungan sekitarnya. Dengan potensi yang sedemikian rupa dan potensi-potensi lain yang dimilikinya, ekosistem mangrove telah menawarkan begitu banyak manfaat kepada manusia sehingga keberadaannya di alam tidak sepi dari perusakan, bahkan pemusnahan oleh manusia.

Gambar 2.3 Hutan  mangrove
Ekosistem mangrove ditumbuhi sedikitnya oleh 89 jenis tumbuh-tumbuhan. Dari jumlah ini terdapat empat jenis yang dinamakan “strict mangrove”, yakni Avicennia, Excoecaria, Sonneratia dan Rhizophora. Selain ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan, ekosistem mangrove juga dihuni oleh berbagai jenis satwa. Sebagai contoh, jenis burung seperti Ardea cinerea (cangak abu), Nomenius schopus (gajahan sedang), Egretta sp. (kuntul), dan Larus sp. (camar). Satwa lainnya yang hidup di sana adalah Macaca fascicularis (kera ekor panjang), Varanus salvator (biawak), juga terdapat satwa yang hidup di dasar hutan mangrove seperti kepiting graspid dan ikan gelodong (Periohthalmus).
2.7       Ekosistem Pesisir Terumbu karang
            Sama halnya dengan hutan mangrove, terumbukarang merupakan salah satu ekosistem khas yang terdapat di wilayah pesisir dan laut daerah tropis.

Gambar 2.4 terumbu karang
Pada dasarnya terumbu karang terbentuk dari endapan-endapan massif kalsium karbonat (CaCO3), yang dihasilksn oleh organisme karang pembentuk terumbu (Karang hermatipik) dari filum Cnidaria, ordo Scleractinia yang hidup bersimbiosis dengan zookantelle, dan sedikit tambahan dari algae berkapur serta organisme lain yang menyeleksi kalsium karbonat.











BAB III
KONDISI UMUM LOKASI STUDI

3. 1      Kondisi fisik
      Secara umum kondisi fisik wilayah pesisir pantai kaarangsong cukup memprihatinkan dikarenakan masih banyak sisa-sisa pencemaran minyak dan bungkusan-bungkusan yang berisi minyak pekat yang sengaja dikumpulkan dari bibir pantai guna mengurangi pencemaran yang menggenang, sejumlah empang atau tambak milik warga yang dekat dengan kegiatan pembersihan limbah cair dan pembuatan beton penahan abrasi terlihat kering, gersang  dan  nampak tidak terurus. Sejumlah waraga lebih memilih memindahkan tambaknya ke daerah lain dikarenakan hawatir ikan dan udang di dalam tambak mati karena terkena ceceran limbah cair yang hanya berjarak beberapa meter saja. Disamping itu nelayan juga banyak pindah tempat untuk mencari ikan,yang dulunya  ikan-ikan masih bisa hidup di wilayah ini, karena tercemar, maka ikan-ikan dan biota laut lainya  pindah tempat hunian.

Gambar 3.1 Pencemaran minyak di pantai karangsong
                Data pengambilan sample proyek pembangunan pada 28 Oktober 2000 SETDA Kabupaten Indramayu diambil dari dua titik yaitu saluran irigasi Desa Karangsong dan Muara Sungai Praja Gumiwang. Hasil analisis laboratorium dapat dilihat pada table di bawah ini.



BML : SK Gub Propinsi Jawa Barat No. 38 Tahun 1991
                Hasil analisis Menunjukkan bahwa konsentrasi parameter yang melebihi BML adalah zat terlarut, DHL, NH3, dan H2s.
Tingginya DHL adalah adanya interusi air laut yang diperkuat oleh kandungan Clorida yang tinggi.Melihat temperature air dan pH yang tinggi membuat kelarutan gas NH3-N dalam air menjadi tinggi.
Adanya kandungan Fe, Mn dan F berasal dari proses erosi tanah yang mengalir.Berdasarkan kandungan kadar BOD dan COD maka tingkat pencemaran bahan organic perairan ini termasuk kategori berat.

BML : Kep – 02/MEN/1988
                Hasil analisa menunjukkan bahwa kosentrasi parameter yang melebihi BML adalah zat padat tersuspensi, Nitrit dan Cd. Tingginya zat tersuspensi karena tingginya sedimentasi dari sungai sehingga air berwarna coklat pekat dan adanya ombak yang mengangkut pasir dari dasar laut ke daratan.
Adanya nitrit bias berasal dari industri, sisa pupuk atau pemukiman melihat adanya kandungan detergen dalam air.
Walaupun hasil penelitian terhadap pestisida tidak ada ditunjukkan oleh tidak adanya Organo Clorin dan Polokhlorinated tetapi adanya kandungan Cd, diduga dari pestisida golongan fungisida yang kumulatif karena sifatnya yang tidak terurai dan buangan industri.
Bila dibandingkan dengan sebelah hulunya maka kandungan Oksigen mengalami penurunan disebabkan oleh menungkatnya kandungan nitrit dan NH3 sedangkan pada saat pemantauan ombak tidak terlalu besar. Berdasarkan kadar BOD dan COD maka tingkat pencemaran bahan organic perairan ini termasuk kategori sedang. 






BAB IV
METODOLOGI STUDI

4.1       Tempat dan Waktu Studi
            Praktikum dilakukan pada tanggal 02 desenber 2011, bertempat di Desa Karangsong Blok Wanasari, Indramayu.
Pengambilan sample dilakukan di sekitar hutan mangrove dan pantai / pesisir Desa Karangsong.

4.2       Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan diantaranya adalah :
1        Termometer 1 buah
2        PHmeter
3        Air Bersih
4        Tisu / lap bersih
5        Alat ukur kadar garam / salinitas ( konduktivitas meter)

4. 3      Metode Pengumpulan Data
Metodologi terbagi dalam dua bagian yaitu metoda pengumpulan data dan metoda analisis data.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh secara primer dan sekunder.
A.     Pengumpulan data primer
         Data primer merupakan data yang didapat secara langsung dilapangan baik berupa pengamatan maupun pengambilan sampling di titik tertentu yang ditetapkan untuk kemudian dilakukan pemeriksaan / analisis,
Kegiatan samling dilakukan dengan beberapa cara :
1. Pengambilan contoh air
Merupakan sejumlah contoh air yang diambil langsung dari badan air  yang dipantau.
2. Pengambilan contoh tanah
Dilakun untuk mengetahui jenis tanahnya dan biota yang hidup di dalamya.
B.     Pengumpulan data sekunder
         Dilakukan pengumpulan data dari berbagai informasi buku, artikel dan lainnya.

Metoda Analisis
Parameter air yang diditeksi diantaranya adalah suhu air, PH air, salinitas, warna air, dan bau.

Data yang telah terkumpul lalu kemudian dibandingkan dengan standar yang berlaku / keadaan normal.






















BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

           
5. 1      Ekosistem Mangrove
A. Pertanyaan
1.      Lokasi praktek : blok …………, desa :…………, kec : ……………
2.      Sebutkan komponen abiotik  pada ekosistem mangrove ?
3.      Sebutkan komponen ekosistem yang berfungsi sebagai produsen (producers) ?
4.      Sebutkan komponen ekosistem yang berfungsi sebagai konsumen makro (makroconsumers) pada ekosistem mangrove?
5.      Sebutkan komponen ekosistem yang berfungsi sebagai konsumen mikro (microconsumers) pada ekosistem mangrove?
6.      Jelaskan interaksi (hubungan timbale balik) pada ekosistem pertambakan dari 4 komponen utama tersebut diatas ?
7.      Sebutkan manfaat dari keberadaan dari ekosistem mangrove?
8.      Sebutka factor-Faktor yang menyebabkan rusaknya ekosistem mangrove ?
9.      Sebutkan langkah-langkah apa saja untuk merehabilitasi lingkungan ekosistem mangrove ?
10.  Gambarkan peta transek sketsa ekosistem pada lokasi praktek dan
Tentukan ciri-ciri fisik dan kimia pada ekosistem Mangrove meliputi :
-          Suhu Udara        :............
-          Suhu Air             :……….
-          pH air                 :……….
-          Salinitas              :……….
-          Tekstur Tanah    : Berpasir halus / liat / lempung berpasir



B. Pembahasan
1.      Lokasi praktek : Blok Wanasari ,Desa karangsong
2.      Komponen abiotik yang ada di mangrove adalah
                                                                          i.      Tanah
                                                                        ii.      Batu
                                                                      iii.      Air
                                                                      iv.      Sinar matahari
                                                                        v.      Udara ( oksigen dll)
                                                                      vi.      Sampah ( plastik dan kertas)
                                                                    vii.      Sisa organisme ( kayu, batok kelapa, tumbuhan mati, cangkang kerang, dan bekas daun )
3.      Konponen yang berfungsi sebagai produsen adalah
                                                                          i.      pohon bakau (bakauan)
                                                                        ii.      Rumput
                                                                      iii.      Pohon api-apian 
                                                                      iv.      Alga
                                                                        v.      Pohon Mangrove
4.      Yang berfungsi sebagai konsumen makro adalah
                                                                          i.      Ikan Glodog
                                                                        ii.      Kepiting
                                                                      iii.      Udang
                                                                      iv.      Ikan lain
                                                                        v.      Burung
                                                                      vi.      Serangga
5.      Yang berfungsi sebagai konsumen mikro adalah
                                                                          i.      Cacing
                                                                        ii.      Sumpil (sejenis gastropoda)
                                                                      iii.      Plankton
6.      Interaksi yang terjadi dari 4 komponen tadi adalah
Terjadi interaksi yang saling menguntungkan yaitu terjadi rantai makanan, masing – masing komponen menjalankan fungsinya secara teratur, pohon mangrove sebagaimana tumbuhan lainya mengkonversi cahaya matahari dan zat hara (nutrient) menjadi jaringan tubuh (bahan organic) melalui fotosintesis. Mangrove merupakan sumbermakanan potensisal dalam berbagai bentuk,bagi semua biota yang hidup di ekosistem hutan mangrove. seperti dimanfaatkan oleh udang, ikan, kepiting maupun plankton sebagai sumber makanan, yang kemudian dari interaksi tersebut membentuk suatu pola / alur perpindahan energi dari cahaya matahari, yang dikonversi bakauan, menuju konsumen mikro dan sampai pada organisme makro yang hidup di dalam hutan mangrove.
7.      manfaat ekosistem mangrove adalah
-          Sebagai peredam gelombang
-          Penghasil sebagian besar detritus
-          Sebagai daerah asuhan
-          Penghasil kayu untuk bahan konstruksi, kayu bakar,pembuatan arang,dan untuk bubur kertas.
-          Sebagai pemasok larva ikan dan udang alam.
8.      Penyebab rusaknya ekosistem mangrove
-          pencemaran limbah
-          Pengalihan aliran air tawar, misalnya pada pembangunan irigasi
-          Konversi menjadi lahan pertanian,perikanan, pemukiman dll.
-          Pembuangan sampah cair dan padat
-          Penambangan dan ekstraksi mineral, baik didalam hutan maupun di sekitar hutan mangrove.
9.      Langkah merehabilitasi ekosistem mangrove
-          melakukan penanaman kembali pohon mangrove di sekitar pesisir
-          tidak membangun tambak didekat pesisir pantai
-          membersihkan sampah cair ataupun padat karena dapat menghambat pertumbuhan mangrove.

2.      Gambar peta transek mangroove

 


                           pantai                 0                     daratan
                                50 mtr                                                                   500 meter ke darat



      Ciri – ciri fisik
Suhu udara            : 32 0C
Suhu Air                : 27,5 0C
pH Air                   : 6
Salinitas                 : 36 0/00
Tekstur Tanah       : Lempung berpasir










 5.2      Ekosistem pantai
            Pertanyaan
1      Lokasi praktek : blok :……………, dasa : …………….., kec : ……………..
2      Sebutkan komponen abiotik  pada ekosistem pantai?
3      Sebutkan komponen ekosistem yang berfungsi sebagai produsen (producers) ?
4      Sebutkan komponen ekosistem yang berfungsi sebagai konsumen makro (makroconsumers) pada ekosistem pantai?
5      Sebutkan komponen ekosistem yang berfungsi sebagai konsumen mikro (microconsumers) pada ekosistem pantai ?
6      Jelaskan interaksi (hubungan timbal balik) pada ekosistem pantai dengan kegiatan manusia?
7      Sebutkan manfaat dari keberadaan dari ekosistem pantai?
8      Sebutka factor-Faktor yang menyebabkan rusaknya ekosistem pantai?
9      Sebutkan langkah-langkah apa saja untuk merehabilitasi lingkungan ekosistem pantai ?
10   Tentukan ciri-ciri fisik dan kimia pada ekosistem pantai meliputi :
11   Suhu Udara                       :..............
Suhu Air                            :………..
pH air                                :……….
Salinitas                             :……….
Tekstur Tanah                   : Berpasir halus / liat / lempung berpasir

Pembahasan
1        Lokasi praktek : Blok wanasari ,desa karansong
2           Komponen abiotik yang ada di pantai adalah
·         Batu
·         Pasir
·         Air
·         Sinar matahari
·         Udara ( oksigen dll)
·         Sampah ( plastik dan kertas)
2      Konponen yang berfungsi sebagai produsen adalah
·         Lumut
·         Alga
3      Yang berfungsi sebagai konsumen makro adalah
·         Ikan Glodog
·         Kepiting
·         Udang udangan
·         Pongo/empet
4      Yang berfungsi sebagai konsumen mikro adalah
·         Cacing
·         Zoo plankton
·         Sumpil (sejenis gastropoda)
·         Plankton

5      Interaksi yang terjadi dari 4 komponen tadi adalah
Terjadi interaksi yang saling menguntungkan yaitu terjadi rantai makanan, masing – masing komponen menjalankan fungsinya secara teratur, pohon bakauan merupakan produsen yang mengkonversi cahaya matahari dan zat hara (nutrient) menjadi bahan organic melalui fotosintesis, kemudian dimanfaatkan oleh udang, ikan, kepiting maupun plankton sebagai sumber makanan, yang kemudian dari interaksi tersebut membentuk suatu pola / alur perpindahan energi dari cahaya matahari, yang dikonversi bakauan, menuju konsumen mikro dan sampai pada organisme makro yang hidup di dalam tambak.
Yang  selanjutnya dimanfaatkan oleh manusia sebagai sumber makanan.

6      manfaat ekosistem pantai adalah:
·         Sebagai tempat wisata bagi pelancong.
·         Sebagai pendapatan asli daerah indramayu
7      Faktor penyebab rusaknya ekosistem
·         Sampah plastik dan kertas
·         Limbah minyak
·         Pencemaran limbah cair(solar,oli,crude oil) sehingga airnya menjadi keruh.
8      langkah merehabilitasi ekosistem pantai yaitu:
·         Melakukan pembersihan pantai
·         Menanam pohon bakauan / api-apian lebih banyak sebagai penahan longsor .
9      Ciri – ciri fisik dari pantai yaitu:
Suhu udara                    : 30ºC
Suhu Air                         : 31ºC
pH Air                             : 8
Salinitas                          : 32º/∞
Tekstur Tanah                : pasir halus
























BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6. 1      Kesimpulan
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
Komponen-komponen pembentuk ekosistem adalah:
- Komponen hidup (biotik)
- Komponen tak hidup (abiotik)
Kedua komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan, tumbuhan air, plankton yang terapung di air sebagai komponen biotik, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.
Kondisi umum di pantai karangsong oleh pencemaran bahan organik perairan ini termasuk kategori berat. Kondisi di hulu sungai prajagumiwang pantai karangsong tingkat pencemaran bahan organik perairan ini termasuk kategori sedang. Sebagian besar hutan mangrove pada daerah pesisir telah rusak Lahan sekitar pesisir pantai karangsong tidak layak lagi sebagai lahan pertambakan ikan dan udang. Ekosistem pesisir pantai karangsong sudah rusak dan hanya sedikit sekali jumlah ikan yang dapat hidup.
6. 2      Saran
     Setelah penulis menyusun laporan ini, penulis menyarankan.
1. Kondisi pantai karangsong menang sudah sangat memprihatinkan oleh sebab itu di samping pengambilan / pembersihan limbah cair, sebaiknya dilakukan penanaman kembali pohon mangrove yang sebagian besar telah rusak.
2.   Sebaiknya tambak / empang milik warga yang sudah tidak produktif lagi  dipindahkan ke tempat lain atau di tutup yang kemudian digunakan sebagai konservasi pengembangbiakan hutan mangrove.
3.   Pemerintah hendaknya menindaklanjuti secara tegas oknum yang terus merusak atau melakukan pembuangan limbah di wilayah pesisir, dan bekerja sama memberikan pengarahan pada masyarakat mengenai usaha pelestarian ekosistem pesisir.
4.   Pengembangan teknik pengolahan limbah perlu di tingkatkan lagi dengan cara memperkenalkan pada industri dan masyarakat tentang metode dan teknologi pengolahan limbah yang mudah dan murah serta efesien seperti negara – negara maju.

























LAMPIRAN          : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
NOMOR               : KEP. 42 / MENLH / 10 /1996
TENTANG            : BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN MINYAK   
  DAN GAS PANAS BUMI
TANGGAL            : 9 OKTOBER 1996

BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN EKSPLORASI DAN PRODUKSI MIGAS

PARAMETER
KADAR MAKSIMUM ( mg/l )
DARAT
LAUT
COD
300
-
MINYAK DAN LEMAK
25
75
SULFIDA (SEBAGAI H2S)
1
-
AMONIA (SEBAGAI NH3-N)
10
-
PHENOL TOTAL
2
-
TEMPERATUR
45 0C
-
pH                                                                                                                          6,0 – 9,0

C:VNDRAM-1\DATA\LAM-BML.WK4








DAFTAR PUSTAKA


Bagian Lingkungan Hidup : 2000. Proyek pengendalian dampak lingkungan TA.2000.      Bagian lingkungan hidup SETDA Kabupaten Indramayu. Indramayu. (tidak
dipublikasikan ).

DDL, fotokopi : 2008. Sinopsis ekosistem dan sumber daya alam pesisir dan laut   serta prinsip pengolahanya. Indramayu.

Jemai ( Japan Environmental Management Association for Industry ) : 1999.                       Pengetahuan dasar pada penanggulangan pencemaran lingkungan air. JETRO ( Japan External Trade Organization ). Jakarta.















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar